FAROIDH

( waris )

Bagian yang telah ditentukan bagi ahli waris

NAMA : SEFTIEAN ALRASYID

NPM    : 13209876

KLS     : 3EA 02

Penulis : refah komputindo

UNIVERSITAS GUNADARMA

FAKULTAS EKONOMI

DEPOK

2012

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim Assalamualaikum Wr. Wb. Puji syukur Penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena hanya dengan limpahan rahmat, taufik dan hidayah-Nyalah Penulis dapat menyelesaikan makalah ini. Sholawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat dan pengikut-pengikutnya hingga akhir zaman. Penyusunan makalah ini dibuat Penulis dalam rangka memenuhi tugas sofskil bahasa indonesia2 disemester6 ini. Penulis menyadari banyak kekurangan dalam penyusunan makalah ini. Namun, Penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi Penulis pada khususnya dan pembaca pada umumnya. Wassalamualaikum Wr. Wb.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

PENDAHULUAN

1 DEFINISI

2 LEGALITAS ILMU FAROIDH

3 KEUTAMAAN ILMU FAROIDH

4 PENINGGALAN (TIRKAH)

5 HAK-HAK YANG BERHUBUNGAN DENGAN HARTA PENINGGALAN

6 RUKUN WARIS

7 SEBAB-SEBAB MEMPEROLEH WARISAN

8 SYARAT-SYARAT PEWARISAN

9 ORANG-ORANG YANG BERHAK MENERIMA WARISAN

PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG

Allah SWT melalui ketiga ayat tersebut –yang kesemuanya termaktub dalam surat an-Nisa’– menegaskan dan merinci nashih (bagian) setiap ahli waris yang berhak untuk menerimanya. Ayat-ayat tersebut juga dengan gamblang menjelaskan dan merinci syarat-syarat serta keadaan orang yang berhak mendapatkan warisan dan orang-orang yang tidak berhak mendapatkannya. Selain itu, juga menjelaskan keadaan setiap ahli waris, kapan ia menerima bagiannya secara “tertentu”, dan kapan pula ia menerimanya secara ‘ashabah.

Perlu kita ketahui bahwa ketiga ayat tersebut merupakan asas ilmu faraid, di dalamnya berisi aturan dan tata cara yang berkenaan dengan hak dan pembagian waris secara lengkap. Oleh sebab itu, orang yang dianugerahi pengetahuan dan hafal ayat-ayat tersebut akan lebih mudah mengetahui bagian setiap ahli waris, sekaligus mengenali hikmah Allah Yang Maha Bijaksana itu.

Allah Yang Maha Adil tidak melalaikan dan mengabaikan hak setiap ahli waris. Bahkan dengan aturan yang sangat jelas dan sempurna Dia menentukan pembagian hak setiap ahli waris dengan adil serta penuh kebijaksanaan. Maha Suci Allah. Dia menerapkan hal ini dengan tujuan mewujudkan keadilan dalam kehidupan manusia, meniadakan kezaliman di kalangan mereka, menutup ruang gerak para pelaku kezaliman, serta tidak membiarkan terjadinya pengaduan yang terlontar dari hati orang-orang yang lemah.

Imam Qurthubi dalam tafsirnya mengungkapkan bahwa ketiga ayat tersebut merupakan salah satu rukun agama, penguat hukum, dan induk ayat-ayat Ilahi. Oleh karenanya faraid memiliki martabat yang sangat agung, hingga kedudukannya menjadi separo ilmu. Hal ini tercermin dalam hadits berikut, dari Abdullah Ibnu Mas’ud bahwa Rasulullah saw. bersabda:

“Pelajarilah Al-Qur’an dan ajarkanlah kepada orang lain, serta pelajarilah faraid dan ajarkanlah kepada orang lain. Sesungguhnya aku seorang yang bakal meninggal, dan ilmu ini pun bakal sirna hingga akan muncul fitnah. Bahkan akan terjadi dua orang yang akan berselisih dalam hal pembagian (hak yang mesti ia terima), namun keduanya tidak mendapati orang yang dapat menyelesaikan perselisihan tersebut. ” (HR Daruquthni)

RUMUSAN MASALAH

  1. Keutamaan ilmu faroid .
  2. Hak hak yang berhubungan dengan harta peninggalan.

 

FAROIDH

1. DEFINISI

Faroidh adalah jamak dari faridhoh. Faridhoh diambil dari kata fardh yang artinya taqdir (ketentuan). Fardh secara syar’ie adalah bagian yang telah ditentukan bagi ahli waris. Ilmu mengenai hal itu dinamakan ilmu waris (‘ilmu miirats) dan ilmu Faroidh.

Dari Penyusun:

Kondisi di Indonesia masih banyak kaum muslimin yang menyepelekan hokum waris. Sebelum meninggal, membuat wasiat yang berisi pembagian waris yang mendurhakai hukum Allah, seperti: tanah barat untuk si A, Rumah di jalan anu untuk si B, padahal si A dan si B adalah ahli waris yang seharusnya dibagi menurut hukum waris yang telah ditentukan Allah SWT. Padahal secara tegas dalam surat An-Nisaa’ ayat 14 yang merupakan rangkaian dari ayat-ayat waris mengancam orang yang menyepelekan hokum Allah dengan api neraka selama-lamanya:

“Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan rasul-Nya dan melanggar ketentuan- ketentuannya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal didalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan.”

2. LEGALITAS ILMU FAROIDH

Orang-orang Arab sebelum Islam hanya memberikan warisan kepada kaum lelaki saja sedang kaum perempuan tidak mendapatkannya, dan warisan hanya untuk mereka yang sudah dewasa, anak-anak tidak mendapatkannya pula. Disamping itu ada juga waris-mewaris yang didasarkan pada perjanjian. Maka Allah membatal- kan itu semua dan menurunkan firman-Nya:

“Allah mensyari’atkan bagimu tentang pembagian pusaka untuk anakanakkmu. Yaitu bagian seorang anak lelaki sama dengan bagian dua orang anak perempuan; dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari satu, maka bagi mereka duapertiga dari harta yang ditinggalkan; jika anak perempuan itu seorang saja maka dia memperoleh separuh harta. Dan untuk dua orang ibu-bapak bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak; jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapaknya (saja), maka ibunya mendapat sepertiga; jika orang yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, maka ibunya mendapat seperenam. (Pembagian-pembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya. (Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa yang lebih dekat (banyak) manfa’atnya bagimu. Ini adalah ketetapan dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (S. An-Nisa : 11)

(Asbabun-Nuzul ayat di atas tidak kami sertakan).

3. KEUTAMAAN ILMU FAROIDH

Dari Ibnu Mas’ud, dia berkata: Telah bersabda Rosululloh saw: “Pelajarilah Al- Qur’an dan ajarkanlah kepada manusia. Pelajarilah Faroidh dan ajarkanlah kepada manusia. Karena aku adalah orang yang akan mati, sedang ilmupun akan diangkat. Hampir saja dua orang berselisih tentang pembagian warisan dan masalahnya tidak menemukan sseorang yang memberitahukannya kepada keduanya” (HR Ahmad).

Dari ‘Abdulloh bin ‘Amr, bahwa Rosululloh saw bersabda: “Ilmu itu ada tiga macam, dan selain dari yang tiga itu adalah tambahan. (Yang tiga itu ialah) ayat yang jelas, sunnah yang datang dari nabi, dan faroidhlah yang adil”. (HR Abu Dawud dan Ibnu Majah).

Dari Abu Hurairoh, bahwa Nabi saw bersabda: “Pelajarilah Faroidh dan ajarkanlah kepada manusia, karena Faroidh adalah separuh dari ilmu dan akan dilupakan. Faroidhlah ilmu yang pertama kali dicabut dari umatku”. (HR Ibnu Majah dan Ad-Daroquthni).

4. PENINGGALAN (TIRKAH)

Peninggalan (tirkah) adalah harta yang ditinggalkan oleh mayit (orang yang mati) secara mutlak. Yang demikian itu ditetapkan oleh Ibnu Hazm, katanya: Sesungguhnya Allah telah mewajibkan warisan kepada harta, bukan yang lain, yang ditinggalkan oleh manusia sesudah dia mati. Adapun hak-hak, maka ia tidak diwariskan kecuali yang mengikuti harta atau dalam pengertian harta, misalnya hak pakai, hak penghormatan, hak tinggal di tanah yang dimonopoli untuk bangunan dan tanaman. Menurut mazhab Maliki, Syafi’i dan Hambali, peninggalan si mayit, baik hak harta benda maupun hak bukan harta benda.

5. HAK-HAK YANG BERHUBUNGAN DENGAN HARTA PENINGGALAN

Hak-hak yang berhubungan dengan harta peninggalan itu ada empat. Keempatnya tidak sama kedudukannya, sebagiannya ada yang lebih kuat dari yang lain sehingga ia didahulukan atas yang lain untuk dikeluarkan dari peninggalan.

Hak-hak tersebut menurut tertib berikut :

– Biaya mengkafani dan memperlengkapinya menurut cara yang telah diatur dalam masalah jenazah

– Melunasi hutangnya. Ibnu Hazm dan Asy-Syafi’i mendahulukan hutang kepada Allah seperti zakat dan kifarat, atas hutang kepada manusia. Orang-orang Hanafi menggugurkan hutang kepada Allah dengan adanya kematian. Dengan demikian maka hutang kepada Allah itu tidak wajib dibayar oleh ahli waris kecuali apabila mereka secara sukarela membayarnya, atau diwasiatkan oleh mayit untuk dibayarnya. Dengan diwasiatkannya hutang, maka hutang itu menjadi seperti wasiat kepada orang lain yang dikeluarkan oleh ahli waris atau pemelihara dari sepertiga yang tersisa setelah perawatan mayat dan hutang kepada manusia. Ini bila dia mempunyai ahli waris. Apabila dia tidak mempunyai ahli waris, maka wasiat hutang itu dikeluarkan dari seluruh harta. Orang-orang Hambali mempersamakan antara hutang kepada Allah dengan hutang kepada manusia. Demikian pula mereka sepakat bahwa hutang hamba yang bersifat ‘aini (hutang yang berhubungan dengan harta peninggalan) itu didahulukan atas hutang muthlak.

– Pelaksanaan wasiat dari sepertiga sisa harta semuanya sesudah hutang dibayar.

– Pembagian sisa harta di antara para ahli waris.

6. RUKUN WARIS

Ada tiga hal :

a. Pewaris (al-waarits) ialah orang yang mempunyai hubungan penyebab kewarisan dengan mayit sehingga dia memperoleh kewarisan.

b. Orang yang mewariskan (al-muwarrits): ialah mayit itu sendiri, baik nyata maupun dinyatakan mati secara hukum, seperti orang yang hilang dan dinyatakan mati.

c. Harta yang diwariskan (al-mauruuts): disebut pula peninggalan dan warisan. Yaitu harta atau hak yang dipindahkan dari yang mewariskan kepada pewaris.

7. SEBAB-SEBAB MEMPEROLEH WARISAN

Ada tiga sebab :

a. Nasab Hakiki (kerabat yang sebenarnya), firman Allah SWT:

“Orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat itu sebagian lebih berhak terhadap sesamanya daripada yang bukan kerabat di dalam Kitab Allah (S.8 : 75)

b. Nasab Hukumi (wala = kerabat karena memerdekakan), sabada Rosululloh saw:

“Wala itu adalah kerabat seperti kekerabatan karena nasab” (HR Ibnu Hibban dan Al-Hakim dan dia menshahihkan pula).

c. Perkawinan yang Shahih, firman Allah SWT:

Dan bagimu seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh isteri-isterimu. (An-Nisaa’ ayat 12)

8. SYARAT-SYARAT PEWARISAN

Ada tiga syarat :

  1. Kematian orang yang mewariskan, baik kematian secara nyata ataupun kematian secara hukum, misalnya seorang hakim memutuskan kematian seseorang yang hilang. Keputusan tersebut menjadikan orang yang hilang sebagai orang yang mati secara hahiki, atau mati menurut dugaan seperti seseoran memukul seorang perempuan yang hamil sehingga janinnya gugur dalam keadaan mati; maka janin yang gugur itu dianggap hidup sekalipun hidupnya itu belum nyata.
  2. Pewaris itu hidup setelah orang yang mewariskan mati, meskipun hidupnya itu secara hukum, misalnya kandungan. Kandungan secara hukum dianggap hidup, karena mungkin ruhnya belum ditiupkan. Apabila tidak diketahui bahwa pewaris itu hidup sesudah orang yang mewariskan mati, seperti karena tenggelam atau terbakar atau tertimbun; maka di antara mereka itu tidak ada waris mewarisi jika mereka itu termasuk orang-orang yang saling mewaris. Dan harta masing- masing mereka itu dibagikan kepada ahli waris yang masih hidup.
  3. Bila tidak ada penghalang yang menghalangi pewarisan.

9. ORANG-ORANG YANG BERHAK MENERIMA WARISAN

Orang-orang yang berhak menerima warisan, menurut mazhab Hanafi,

tersusun sebagai berikut :

1 Ashhaabul Furuudh

2 ‘Ashabah Nasabiyah

3 ‘Ashabah Sababiyah

4 Rodd kepada Ashhaabul Furuudh

5 Dzawul Arhaam

6 Maulal Muwaalah

7 Orang yang diakukan nasabnya kepada orang lain

8 Orang yang menerima wasiat melebihi sepertiga harta peninggalan

9 Baitul Maal

Adapun urutan orang-orang yang berhak menerima warisan menurut kitab

Undang- undang warisan yang berlaku di Mesir adalah sebagai berikut:

1 Ashhaabul Furuudh

2 ‘Ashabah Nasabiyah

3 Rodd kepada Ashhaabul Furuudh

4 Dzawul Arhaam

5 Rodd kepada salah seorang suami-isteri

6 ‘Ashabah Sababiyah

7 Orang yang diakukan nasabnya kepada orang lain

8 Orang yang menerima wasiat semua harta peninggalan

9 Baitul Maal

KESIMPULAN

Faroidh adalah jamak dari faridhoh. Faridhoh diambil dari kata fardh yang artinya taqdir (ketentuan). Fardh secara syar’ie adalah bagian yang telah ditentukan bagi ahli waris. Ilmu mengenai hal itu dinamakan ilmu waris (‘ilmu miirats) dan ilmu Faroidh. Peninggalan (tirkah) adalah harta yang ditinggalkan oleh mayit (orang yang mati) secara mutlak.

Ada tiga hal :

a. Pewaris (al-waarits) ialah orang yang mempunyai hubungan penyebab kewarisan dengan mayit sehingga dia memperoleh kewarisan.

b. Orang yang mewariskan (al-muwarrits): ialah mayit itu sendiri, baik nyata maupun dinyatakan mati secara hukum, seperti orang yang hilang dan dinyatakan mati.

c. Harta yang diwariskan (al-mauruuts): disebut pula peninggalan dan warisan. Yaitu harta atau hak yang dipindahkan dari yang mewariskan kepada pewaris.

Orang-orang yang berhak menerima warisan, menurut mazhab Hanafi,

tersusun sebagai berikut :

1 Ashhaabul Furuudh

2 ‘Ashabah Nasabiyah

3 ‘Ashabah Sababiyah

4 Rodd kepada Ashhaabul Furuudh

5 Dzawul Arhaam

6 Maulal Muwaalah

7 Orang yang diakukan nasabnya kepada orang lain

8 Orang yang menerima wasiat melebihi sepertiga harta peninggalan

9 Baitul Maal

Adapun urutan orang-orang yang berhak menerima warisan menurut kitab

Undang- undang warisan yang berlaku di Mesir adalah sebagai berikut:

1 Ashhaabul Furuudh

2 ‘Ashabah Nasabiyah

3 Rodd kepada Ashhaabul Furuudh

4 Dzawul Arhaam

5 Rodd kepada salah seorang suami-isteri

6 ‘Ashabah Sababiyah

7 Orang yang diakukan nasabnya kepada orang lain

8 Orang yang menerima wasiat semua harta peninggalan

9 Baitul Maal

Referensi :

Sumber : Fiqh Sunnah jilid 14

Karangan : As-Sayyid Sabiq

Cetakan 2 — Bandung: Alma’arif, 1988

http://media.isnet.org/islam/Waris/Penjelasan.html